author

Belajar Hukum Indonesia: Pengalaman di Desa Ulak Embacang

Pengalaman di Desa Ulak Embacang

Minggu, 6 Februari 2011, sekitar pukul 20.00 WIB
Mulai berangkat dari stasiun terminal AKDP menuju Desa Jud Kec.Sanga Desa Kab.Musi Banyuasin, sesampainya di Ds.Jud saya menginap di rumah Kepala Desa (Kades) Jud hingga siang hari saya pun mulai berangkat menuju Ds.Ulak embacang Kec.Sanga Desa Kab.Musi Banyuasin, dan kembali menginap semalam di rumah salah satu warga di Ds.Ulak Embacang.
Rabu, 9 Februari 2011, sekitar pukul 08.00 WIB.

Dengan segala perbekalan dan perlengkapan yang ada dan dengan tekat yang kuat saya mulai berangkat menuju titik start areal lahan yanq akan di ukur, sejauh sekitar 3 km dari rumah tempat saya menginap dengan berjalan kaki.
Sesampai di titik start ternyata para anggota telah menuggu saya, kami beristirahat sejenak di gudang sambil bercanda dan bercengkrama antar sesama anggota yang akan mengikuti perjalanan.
Tepat pada pukul 09.00 WIB saya beserta 10 orang lainnya mulai berangkat dari gudang menuju areal lahan hutan belantara yang akan di ukur mula-mula dengan menggunakan perahu sejauh 3,4 km hingga ke Pangkalan Simpo, sesampai di Pangkalan Simpo kami pun mengabadikan saat bersama dengan berfoto  bersama lalu serang ketek dan mandor kembali ke gudang sembari menunggu kami kembali ke titik awal.
9 orang termasuk saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, melintasi medan jalan yang berliku, berduri, berlumpur dan penuh dengan pohon-pohon kecil maupun besar yang jarak antar pohon tidak ada yang lebih dari 1m. Di tengah jalan kami terus memberi tanda di setiap pohon dengan menggunakan cat warna kuning dan selalu memberi tanda pada GPS.
Ditengah perjalanan kaki kiri saya masuk ke dalam lubang yang amat dalam sampai batas lutut, karena itu semua kaki saya menjadi kram dan susah untuk di gerakkan, akhirnya perjalanan tertunda hanya karena saya, perjalanan tidak akan pernah bisa dilanjutkan sebelum saya benar-benar bisa berjalan karena hanya saya yang bisa mengoperasikan alat GPS, karena saya tidak mau merepotkan seluruh anggota yang lain akhirnya walau dengan kaki terpincang-pincang saya mengajak seluruh anggota untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Setelah sekitar 1 km berjalan menyusuri hutan belantara semua terlihat aman dan terkendali, sampai pada akhirnya seseorang bernama Si berlari menemui kami dengan nafas terengah-engah ia berkata “kalian tuh salah rute, rute yang beno tuh arah Timur kire2 300m dari sikak”, kami pun serentak kaget, saya pun mengambil inisiatif untuk mencari titik batas kesalahan yang sebenarnya, saat telah menemukan titiknya kami semua baru menyadari telah salah rute sejauh 682m. Dengan kesalahan ini peta rute pada GPS pun sedikit kacau. Kami pun beristirahat sembari menenangkan diri sejenak di bawah “Para Sebatang” untuk melepas lelah sekitar 10 menit dan langsung melanjutkan perjalanan menuju areal perbatasan berikutnya.
Setelah adanya kesalahan yang terjadi semua konsentrasi hampir seluruh anggota terlihat kacau, seseorang bernama Johan, yang di yakini tau betul tentang hutan tsb pun menjadi ling-lung menentukan arah perjalanan yang benar, atas kejadian tsb terjadilah cek-cok dan adu mulut antar anggota yang berselisih pendapat tentang arah jalan yang benar.

Pukul 14.30 WIB akhirnya kami tersesat di tengah hutan belantara tanpa makan, minum, serta komunikasi karena saat itu tak ada sedikitpun sinyal handphone. di tengah jalan yang penuh kesesatan kami menemukan sungai yang sedikit bening yang kami tau bernama sungai  Benanye, kami pun minum mengisi persediaan air minum, kami pun selamat dari kehausan tapi tentunya belum selamat dari kesesatan.
Pada akhirnya 2 orang mengundurkan diri  dan selang beberapa lama kemudian 1 orang  pun ikut mengundurkan diri dengan alasan yang tak menentu dan lalu memisah jalan dengan anggota yang lain, tinggallah saya dan 5 orang lainnya bersama mencari jalan menuju keluar dari kesesatan.
Jam telah menunjukkan pukul 16.45 namun kami masih tetap belum menunjukkan titik temu jalan menuju pulang ke titik awal, sedangkan tenaga dan energi para anggota telah hampir habis karena terlalu banyak berjalan. Pada akhirnya kami menemukan aliran sungai Lintang, kami pun mengikuti aliran sungai Lintang dan pada akhirnya menemukan jalan keluar menuju pulang ke titik awal.
Sesampainya di gudang kami semua terbujur kaku terguling di atas jembatan sembari melepas lelah yang di derita selama berjalan dalam kesesatan.

Kamis, 10 Februari 2011 
Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan untuk pengukuran areal lahan lainnya yang telah diperkirakan luasnya sedikit lebih kecil dari lahan yang kami ukur pada hari pertama, namun untuk areal medan tapak mungkin akan lebih sulit untuk di lewati.
Tepat pukul 08.30, dengan anggota yang hanya 6 orang kami berangkat menuju areal lahan, dengan perlengkapan dan perbekalan yang kami rasa cukup untuk perjalanan kami seharian. Disepanjang perjalanan kami terus memberi tanda dengan menggunakan cat warna kuning pada hampir setiap pohon yang kami lewati.
                Ketika perjalanan memasuki pertengahan, datanglah rombongan lain yang tidak kami kenal, mereka mempertanyakan untuk keperluan apa pengukuran yang kami lakukan saat itu karena menurut mereka kami telah melewati batas areal lahan yang seharusnya.  Namun setelah kami adakan musyawarah kurang lebih 1 jam yang amat sangat sederhana dengan saya sendiri sebagai pembicara akhirnya merekapun maklum dan mempersilahkan kami untuk melanjutkan perjalanan dengan catatan jangan sampai mengukur areal lahan milik mereka, setelah saling bersalaman kami pun kembali melanjutkan perjalanan.
                setelah berjalan kami pun banyak mengalami gangguan, seperti di sengat lebah, kaki tersandung, bahkan salah satu anggota kami terpeleset dan pada akhirnya tercebur ke dalam sungai yang sebenarnya tidak dalam, untuklah ia tidak menderita luka yang amat serius. Karena kejadian tsb kami berhenti sejenak sembari beristirahat sambil mengisi tenaga dan berdo’a agar di selamatkan dari bencana dan rintangan yang akan kami kedepannya.
                Kami pun melanjutkan perjalanan, tak lama kemudian tibalah kami pada ujung perbatasan yaitu pada ujung sungai Lintang.
Satu rintangan lagi kembali menghadang, di tempat kami berpijak saat itu yaitu di ujung perbatasan sungai Lintang tidak ada sedikitpun sinyal handphone untuk kami menghubungi anggota lain untuk menjemput kami di perbatasan. Salah satu anggota pun mengambil inisiatif tersendiri, ia memanjat pohon yang paling tinggi sembari membawa handphone dan pada akhirnya mendapat sinyal pada ujung pohon yang tertinggi, ia pun langsung menelepon anggota lain agar menjemput kami di perbatasan dengan menggunakan perahu skoci.
                Setelah menunggu beberapa lama tibalah perahu menjemput kami, sebelum menaiki perahu kami pun menyempatkan diri untuk mengabadikan saat-saat bersama dengan berfoto bersama di tugu perbatasan. tak lama kemudian kami menaiki perahu dan tak selang beberapa lama kami tiba di titik awal perjalanan yaitu di gudang. kami pun beristirahat sejenak sembari melepas lelah dan menceritakan semua yang kami alami seharian ini.


                                                                                                                                                                                                                           
Banyak cerita, pengalaman dan kenangan yang saya dapat dari Desa Ulak Embacang Kec.Sanga Desa Kab.Musi Banyuasin.
mulai dari cara beradaptasi terhadap masyarakat yang kurang berwawasan, cara bergaul dengan orang2 yang kurang memahami arti dari sopan –santun dan segala keterbatasan yang di miliki masyarakat Desa Ulang Embacang. 
AIR
yang saya tahu, status fungsi alternatif air pada desa ini adalah "satu untuk semua", yaitu :
hanya ada satu sumber air pada desa ini yaitu Air Sungai Balam yang dapat dipergunakan untuk semua pemakain, dari cuci baju, cuci piring, mandi, sikat gigi, BAB, BAK, dsb.

LISTRIK 
listrik yang ada di Desa ini hanya menyala pada jam-jam tertentu saja yaitu dari pukul 18.00 WIB dan kembali padam sekitar pukul 00.00 WIB, itu pun sering kali telah padam sebelum pukul yang tersebut
LAUK PAUK MAKANAN
untuk hal yang satu ini masyarakat Desa Ulak Embacang tidak pernah telepas dari makanan yang sehat yang mengandung gizi, protein dan karbohidrat yang cukup dan yang paling penting bahan makanan ini sangat mudah untuk di dapat. Makanan itu adalah "IKAN"


Masyarakat Desa Ulak Embacang merupakan masyrakat yang berwibawa, tidak akan pernah hati, jiwa dan raga mereka dan keluarga mereka di sakiti lahir maupun bathin. Mereka akan "membasmi" orang -orang yang mengganggu kehidupan mereka dan mengambil keuntungan untuk pribadi maupun golongan yang dapat merugikan masyarakat Desa Ulak Embacang lainnya.


Sepulang dari Ds.Ulak Embacang saya melihat pengukuran areal lahan yang kami lakukan dengan menggunakan GPS, yaitu :
Areal lahan yang di lalui di hari pertama : 844,23 Ha
Areal lahan yang di lalui di hari kedua    :  369,2 Ha
TOTAL AREAL LAHAN : 1213,43 Ha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar