author

Belajar Hukum Indonesia: Double Track System dan Single Track System

Double Track System dan Single Track System

Dalam perkembangan pidana dan pemidanaan pada aliran moderen, sistem pemidanaan mulai berorientasi pada pelaku dan perbuatan (daad-dader straafrecht) jenis sanksi yang diterapkan bukan hanya sanksi pidana tetapi juga meliputi sanksi tindakan.
Pengakuan terhadap kesetaraan antara sanksi pidana dan sanksi tindakan inilah yang merupakan hakekat asasi atau ide dasar  konsep Double track system.
Double track system adalah  Konsep yang menganut kedua-duanya, yakni sanksi pidana dan sanksi tindakan. Double track system tidak sepenuhnya menganut salah satu diantara keduannya. Sistem dua jalur ini menempatkan dia jenis sanksi tersebut dalam kedudukan yang setara.
Penekanan pada kesetaraan  antara sanksi pidana dan sanksi tindakan dalam kerangka double track system, sesungguhnya terkait dengan fakta bahwa  unsure pencelaan/ penderitaan (lewat sanksi pidana) dan unsure pembinaan (lewat sanksi tindakan) sama-sama penting.
Paham filsafat yang mengakui kesetaraan antara sanksi pidana dan tindakan adalah filsafat  Eksistensialisme  dari Albert Camus.  Camu smengakui justifikasi punishment (pidana) bagi seorang pelanggar, karena punishment merupakan konsekuensi logis dari kebebasan yang disalahgunakan pelaku kejahatan.
Dari sudut pandang ide dasar double track system, kesetaraan kedudukan sanksi pidana dan sanksi tindakan sangat bermanfaat untuk memaksimalkan penggunaan kedua sanksi tersebut secara tepat dan proporsional. Sebab kebijakan sanksi yang integral dan seimbang, selain menghindari penerapan sanksi yang fragmentaristik (pada saknsi pidana) juga menjamin keterpaduan sistem sanksi yang bersifat individual dan fungsional.



Sumber Materi :
Kuliah Umum Dr. Setyo Utomo,S.H,M.hum tanggal 27 Mei 2011 di Kampus STIHPADA Palembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar