author

Belajar Hukum Indonesia: POTENSI TERJADINYA KORUPSI DALAM PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

POTENSI TERJADINYA KORUPSI DALAM PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH



PENGERTIAN PENGADAAN BARANG/JASA SECARA UMUM
          Pengadaan (procurement) meliputi  kegiatan pengadaan kebutuhan barang/jasa melalui salah satu dari tiga pendekatan berikut : buat sendiri – swakelola (make), pembelian (buy), sewa (rent)
          Pembelian (buy) kegiatan pengadaan kebutuhan barang/jasa hanya melalui pembelian

Perencanaan Umum Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah
Prosedur penyusunan rencana umum pengadaan dan persiapan pelaksanaan pengadaan barang / jasa yang menghasilkan dokumen rencana umum pengadaan dan dokumen pengadaan barang / jasa. Prepres No. 54/2010, Bab III, pasal 8, ayat (1) menyatakan bahwa Pengguna Anggaran (PA) memiliki tugas dan wewenang menetapkan rencana umum pengadaan dan mengumumkan secara luas rencana umum pengadaan paling kurang di website K/L/D/I, serta pasal 17 ayat 2 bahwa ULP/pejabat pengadaan menyusun rencana pemilihan penyedia barang atau jasa dan menetapkan dokumen pengadaan.

D E F I N I S I
Prepres No. 54/2010, Bab I, pasal 1, ayat (1) :  
Kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa oleh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi lainnya yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa.
 Pelaksanaan Barang/Jasa :
      1. Swakelola
      2. Pemilihan Penyedia Barang/Jasa
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah :
      1. Barang
      2. Pekerjaan Konstruksi
      3. Jasa Konsultasi
      4. Jasa Lainnya


Siklus menurut Perpres 54/2010 adalah Prosedure dan metoda pemilihan/seleksi bagi calon penyedia
PEMILIHAN PENYEDIA :
Barang,Pemborongan/Barang lainnya
Seleksi Umum :
Konsultasi Seleksi terbatas dan langsung, penunjukan langsung
           
METHODE
            Pelelangaan umum dg pasca kualifikasi /prakuaikasi, pelelangan terbatas,pemilih an langsung dan penunjuk an langsung
Ev. kualitas,metoda dua sampul
Ev. kualitas,metoda dua tahap
Ev. kualitas dan biaya,metoda dua sampul
Ev. pagu anggaran,metode dua sampul
Ev. biaya terendah,met.dua sampul

PICTURE 4
PICTURE 5

Pengadaan secara elektronik
l  Pengadaan secara elektronik atau E-Procurement adalah Pengadaan Barang/Jasa yang dilaksanakan dengan menggunakan teknologi informasi dan tranksaksi elektronik sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
l  Layanan Pengadaan Secara Elektronik yang disebut LPSE adalah unit kerja K/L/D/I yang dibentuk untuk menyelenggarakan sistem pelayanan Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik.
Berdasarkan Pasal 131 ayat 1 dan 2 :
1)      K/L/D/I wajib melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik untuk sebagian/seluruh paket-paket pekerjaan pada Tahun Anggaran 2012.
2)      K/L/D/I mulai menggunakan e-Procurement dalam Pengadaan Barang/Jasa disesuaikan dengan kebutuhan, sejak Peraturan Presiden ini ditetapkan.
3)      Para Pihak Dalam Pengadaan Barang dan Jasa
Pengadaan barang dan jasa melibatkan dua pihak,yaitu :
Pihak Pembeli atau Pengguna
dan
 Pihak Penjual atau Penyedia Barang dan Jasa.
Pembeli atau Pengguna B/J adalah pihak yang membutuhkan barang dan jasa.  Dalam pelaksanaan pengadaan, pihak pengguna adalah pihak yang meminta atau memberi tugas kepada pihak penyedia untuk memasok atau membuat barang atau melaksanakan pekerjaan tertentu.  Pengguna barang dan jasa dapat merupakan suatu lembaga/organisasi dan dapat pula orang perseorangan.  Yang tergolong lembaga antara lain : Instansi pemerintah (Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Kota), badan usaha (BUMN, BUMD, Swasta), dan organisasi masyarakat.  Sedangkan yang tergolong orang perseorangan adalah individu atau orang yang membutuhkan barang dan jasa.
4)      Para Pihak Dalam Pengadaan Barang dan Jasa
Pengadaan barang dan jasa melibatkan dua pihak,yaitu :
Pihak Pembeli atau Pengguna
dan
 Pihak Penjual atau Penyedia Barang dan Jasa.
Pembeli atau Pengguna B/J adalah pihak yang membutuhkan barang dan jasa.  Dalam pelaksanaan pengadaan, pihak pengguna adalah pihak yang meminta atau memberi tugas kepada pihak penyedia untuk memasok atau membuat barang atau melaksanakan pekerjaan tertentu.  Pengguna barang dan jasa dapat merupakan suatu lembaga/organisasi dan dapat pula orang perseorangan.  Yang tergolong lembaga antara lain : Instansi pemerintah (Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Kota), badan usaha (BUMN, BUMD, Swasta), dan organisasi masyarakat.  Sedangkan yang tergolong orang perseorangan adalah individu atau orang yang membutuhkan barang dan jasa.




TINDAK LANJUT PENGAWASAN
Pasal  49
(1)  Kepada para pihak yang ternyata terbukti melanggar ketentuan dan prosedur pengadaan barang/jasa,maka:
            a.  Dikenakan sanksi administrasi;
            b.  Dituntut ganti rugi/digugat secara perdata;
            c.  Dilaporkan untuk diproses secara pidana.




Tahapan Pengadaan Barang/Jasa Dan Bentuk Potensi Penyimpangan
Tahapan Pengadaan :
I.    PERENCANAAN PENGADAAN:
1.      Pengadaan yang mengada-ada (proyek pesanan, tanpa evaluasi, kebutuhan dari proses pengangaran sebelumnya-berkaitan dengan sistem pengangaran).
2.      Penggelembungan angg(biaya, volume, bahan & kualitas-berkaitan dengan sistem penggangaran).
3.      Jadwal Pengadaan yang tidak realistis (rekanan yang telah tahu lebih dahulu yang dapat siap mengikuti tender).Pengadaan yang mengarah pada produk/spek tertentu (menutup peluang perus/pengusaha lain, mengarah pada PL/rencana pengadaan diarahkan /rekayasa pemaketan untuk KKN.
II.        PEMBENTUKAN PANITIA LELANG :
1.      Problem Transparansi (panitia tidak dapat menjamin kesamaan dalam memperoleh informasi bagi semua peserta tender.
2.      Panitia tidak berlaku adil; & profesional dalam semua tahapan pengadaan/panitia yang memihak/tidak independent.
3.      Problem integritas (pernah terlibat kasus KKN, memiliki latar belakang yang mendorong kedekatan dengan rekanan).
III.             PRAKUALIFIKASI PERUSAHAAN :
1.      Proses prakualifikasi tidak dilakukan / hanya dilakukan satu kali untuk beberapa proyek pengadaan.
2.      Meloloskan perus yang tidak memenuhi syarat administrasi & tekhnis (kelas perus, kecukupan modal & cakupan pekerja).
3.      Meloloskan perus memenuhi syarat tapi pernah memiliki cacat dalam kinerja pengerjaan proyek.
4.      Meloloskan lebih dari satu perus yang dimiliki oleh satu pengusaha (perus banyak nama satu alamat dan pemilik).
5.      Meloloskan rekanan yang menggunakan dokumen palsu/tidak mendapatkan legalisasi dari instansi terkait (panitia tidak melakukan pengecekan laporan).
IV.       PENYUSUNAN DOKUMEN LELANG :
1.      Rekayasa kriteria evaluasi.
2.      Dokumen lelang yang non standar
3.      Spesifikasi mengarah pada barang/jasa tertentu (lingkup pekerja & spesifikasi barang – diikuti oleh kriteria ev yang juga tidak rasional/menutup kemungkinan bagi semua rekanan untuk memenuhinya.
misalnya : Rekomendasi dari distributor utama di luar negeri yang hanya mungkin diberikan pada satu perusahaan di dalam negeri.
4.      Dokumen yang tidak lengkap dapat menyediakan peluang korupsi (Lingkup pekerjaan, mutu, jumlah ukuran/volume, dll).
V.        PENGUMUMAN PELELANGAN :
1.      Jangka waktu pengumuman yang terlalu singkat (dilihat dari waktu wajar yang diperlukan untuk memenuhi prasyarat lelang).
2.      Diumumkan lewat media yang tidak terkenal (tidak sesuai dengan ketentuan peraturan yang ada).
3.      Isi pengumuman lelang tidak lengkap
VI.       PENGAMBILAN DOKUMEN LELANG :
            Ada perbedaan informasi dokumen lelang yang diberikan kepada      masing-masing             peserta tender (hal ini pernah dilaporkan oleh salah satu peserta tender kotak      suara, KPU).

 VII. PENENTUAN HPS :
1.      Penggelembungan anggaran. HPS direkayasa baik jumlah unit pekerjaan ataupun volume, penawaran dari rekananpun didekatkan dengan harga yang sudah digelembungkan.
2.      Memasukkan elemen pekerja yang proses pekerjaanya sudah selesai (dari sumber anggaran / proyek yang lain).
3.      Harga dasar yang tidak standar (mengambil kualifikasi yang paling tinggi).
4.      Keterlibatan calon pemenang dalam penentuan HPS.
VIII.    PENJELASAN LELANG :
1.       Pre bid meeting terbatas.
2.       Rekanan tidak mendapatkan informasi yang lengkap & terbuka (informasi lengkap dilakukan diluar forum penjelasan). Mengakibatkan ketidaksetaraan informasi & dapat mempengaruhi penawaran.
IX.       EVALUASI PENAWARAN :
1.      Evaluasi tertutup & tersembunyi
2.      Peserta lelang terpola dalam rangka berkolusi
3.      Tidak ada pengecekan lapangan (konfirmasi) untuk syarat teknis (akreditasi perus) & administratif (kelengkapan prasyarat administratif) /kriteria evaluasi cacat.
4.      Tidak ada konfirmasi syarat jaminan penawaran.

X.        PENGUMUMAN CALON PEMENANG :
1.      Pengumuman sangat terbatas.
2.      Tanggal pengumuman sengaja ditunda.
3.      Pengumuman yang tidak informative.
XI.       SANGGAHAN PESERTA LELANG:
1.      Tidak seluruh sanggahan ditanggapi.
2.      Substansi sanggahan yang tidak ditanggapi.
3.      Sanggahan performa untuk menghidari tuduhan tender diatur.
XII.     PENUNJUKAN PEMENANG LELANG :
1.      Penundaan surat penunjukan (harus didapatkan dengan menyuap).
2.      Penunjukan dipercepat sebelum masa sanggah berakhir.

XIII.    PENANDATANGAN KONTRAK:
            Penundaan kontrak (harus didapatkan dengan menyuap).

XIV.    PENYEDIAAN BARANG/JASA KEPADA USER :
1.      Kriteria penerimaan barang biasa.
2.      Volume barag yang tidak sama dengan yang tertulis di dokumen lelang.
3.      Jaminan pasca jual palsu.
4.      Tidak sesuai spek & kualifikasi teknis.
5.      Adanya contract change order di tengah pengerjaan.
Memungkinkan terjadinya perubahan spek & kualifikasi pekerjaan.







Sumber:
PUSPENKUM KEJAGUNG RI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar